Thursday, April 22, 2010

Capal Kulit Sang Raja

Seorang Maharaja teringin akan berkeliling negeri untuk melihat keadaan rakyatnya. Ia memutuskan untuk berjalan kaki sahaja. Baru beberapa meter berjalan di luar istana, kakinya terluka kerana tersepak batu. Ia berpikir, “Ternyata jalan-jalan di negeriku ini buruk sekali. Aku harus memperbaikinya.”

Maharaja lalu memanggil seluruh menteri istana. Beliau memerintahkan untuk melapisi seluruh jalan-jalan di negerinya dengan kulit lembu yang terbaik. Segera sahaja para menteri istana melakukan segala persiapan. Mereka mengumpulkan lembu-lembu dari seluruh negeri untuk disembelih dan diambil kulitnya.

Di tengah-tengah kesibukan yang luar biasa itu, datanglah seorang ilmuwan menghadap Maharaja. Ia berkata pada Maharaja, “Wahai Paduka, mengapa Paduka hendak membuat sekian banyak kulit lembu untuk melapisi jalan-jalan di negeri ini, padahal sesungguhnya yang Paduka perlukan hanyalah dua potong kulit lembu untuk mengalas telapak kaki Paduka sahaja.”





Moral: 
Untuk membuat dunia menjadi tempat yang nyaman untuk hidup, kadangkala kita harus mengubah cara pandang kita, hati kita, dan diri kita sendiri. Bukan dengan jalan mengubah dunia itu atau menyesali takdir yg telah terjadi dalam kehidupannya.

Kerana kita seringkali keliru dalam menafsirkan dunia. Dunia, dalam pikiran kita kadang kala hanyalah suatu bentuk peribadi. Dunia, kita ertikan sebagai milik kita sendiri, yang pemainnya adalah kita sendiri. Tak ada orang lain yang terlibat. Sebab seringkali dalam pandangan kita, dunia adalah bayangan diri kita sendiri.

Ya, memang, jalan kehidupan yang kita tempuh masih terjal dan berbatu. Manakah yang kita pilih, melapisi setiap jalan itu dengan permadani berbulu agar kita tak pernah merasakan sakit, atau melapisi hati kita dengan kulit pelapis, agar kita dapat bertahan melalui jalan-jalan itu?

No comments:

Post a Comment