Thursday, June 17, 2010

(Kisah Titik Hitam). Nilailah Secara Positif.. Bersyukurlah



"Ustadz.. Terus terang, saya merasa kehidupan dunia ini hampa. Tidak ada yang istimewa dan layak disyukuri.” Seorang lelaki curhat (mencurahkan rasa hati) pada seorang Ustadz.

“Sehinggakan, saat tidurlah menjadi suatu saat kebahagiaan terindah. Saya tidak puas atas apa yang saya miliki. isteri, pekerjaan, kehidupan, kemampuan serta fisik yang saya miliki sepertinya tidak memenuhi kehendak dan impian. Saya selalu merasa menjadi orang yang kekurangan di dunia ini."

“Lalu ?” Ustadz dengan kopiah di kepalanya hanya tersenyum dan mendengarkan keluhan lelaki ini.

"Semakin kuat saya berusaha untuk merubah keadaan, yang saya terima adalah semakin banyak kekecewaan.” Katanya sambil menunduk.

“Ya…aku mengerti apa yang kau alami. Itu sifat manusiawi..” Kata Ustadz tersenyum. "Sekarang aku akan ambil satu kertas putih kosong dan aku tunjukkan padamu… Nah, apa yang kamu lihat ?" Pertanyaan Ustadz. 

“Aku tidak melihat apa-apa… Semuanya putih.” Jawab lelaki itu.

Sambil mengambil pena hitam dan membuat satu titik ditengah kertasnya, Ustadz berkopiah putih itu berkata, “Nah..Sekarang aku telah beri satu titik hitam di atas kertas itu. Sekarang gambar apa yang kamu lihat ?”

“Saya melihat satu titik hitam, Ustadz."

“Pastikan lagi !” Tegur si Ustadz.

“Titik hitam !" Jawabnya yakin.

“Sekarang aku tahu penyebab masalahmu. Kenapa engkau hanya melihat satu titik hitam saja dari kertas tadi? Cubalah ubah sudut pandangmu hai pemuda.
Menurutku yang kulihat bukan titik hitam tapi tetap sebuah kertas putih meski ada satu noda didalamnya. Aku melihat lebih banyak warna putih dari kertas tersebut sedangkan kenapa engkau hanya melihat hitamnya saja dan itu pun hanya setitik ?” Jawab Ustadz berkopiah putih.

“Sekarang mengertikah kamu ? Dalam hidup, bahagia atau tidaknya hidupmu tergantung dari sudut pandangmu memandang hidup itu sendiri. Jika engkau selalu melihat titik hitam tadi yang diertikan sebagai kekecewaan, kekurangan dan keburukan dalam hidup maka hal-hal itulah yang akan selalu hinggap dan menemani dalam hidupmu.

“Cubalah fahami, bukankah disekelilingmu penuh dengan warna putih, yang ertinya begitu banyak anugerah yang telah diberikan oleh Allah kepada kamu. Kamu masih mampu melihat, mendengar, membaca, berjalan, tubuh yang tegap dan sihat, anak yang lucu-lucu dan begitu banyak kebaikan dari isterimu daripada kekurangannya. 
Berapa banyak suami-suami yang kehilangan istrinya ?
Juga begitu banyak kebaikan dari pekerjaanmu di lain sisi banyak orang yang menanti dan menderita kerana mencari pekerjaan. Begitu banyak orang yang lebih miskin bahkan lebih kekurangan daripada kamu. Kamu masih memiliki rumah untuk berteduh, aset sebagai simpananmu di hari tua, tabungan , insurans dan teman-teman yang baik yang selalu menemanimu. Kenapa engkau selalu melihat sebuah titik hitam saja dalam hidupmu ?” Hurai si Ustadz panjang lebar.



Betapa mudahnya melihat keburukan orang lain, padahal begitu banyak hal baik yang telah diberikan orang lain kepada kita.

Betapa mudahnya melihat kesalahan dan kekurangan orang lain, sedangkan kamu lupa kelemahan dan kekurangan diri kita.

Betapa mudahnya menyalahkan dan mengingkari- Nya atas kesusahan hidupmu, padahal begitu besar anugerah dan kurnia yang telah diberikan oleh-Nya dalam hidup kita.

Betapa mudahnya menyesali hidup kamu padahal banyak kebahagiaan telah diciptakan untuk kamu dan menanti kamu.



“Mengapa kamu hanya melihat satu titik hitam pada kertas ini? PADAHAL SEBAGIAN KERTAS INI BERWARNA PUTIH ? Sekarang mengetikah engkau?” Ucap Ustadz.

“Ya saya mengerti. Betul, ini tetap kertas putih. Cuma hanya ada titik kecil hitam ditengahnya.” Ucap lelaki tersenyum cerah.

No comments:

Post a Comment